Gaya Kepemimpinan Menurut Para Ahli
Gaya Kepemimpinan Menurut Para Ahli. Gaya kepemimpinan merupakan perilaku pemimpin yang khas pada
saat mempengaruhi anak buahnya, apa yang dipilih oleh pemimpin untuk
dikerjakan, cara memimpin bertindak untuk mempengaruhi anggota kelompok
membentuk gaya kepemimpinannya (Mulyasa, 2003:108).
Secara teoritis telah banyak dikenal gaya kepemimpinan, namun gaya mana yang terbaik tidak mudah ditentukan. untuk memahami gaya kepemimpinan, sedikitnya dapat dikaji dari tiga pendekatan utama, yaitu;
Secara teoritis telah banyak dikenal gaya kepemimpinan, namun gaya mana yang terbaik tidak mudah ditentukan. untuk memahami gaya kepemimpinan, sedikitnya dapat dikaji dari tiga pendekatan utama, yaitu;
A. Pendekatan Sifat
Sutisna dalam Mulyasa (2003:108) mengatakan bahwa
“pendekatan sifat berpendapat bahwa terdapat sifat-sifat tertentu, seperti
kekuatan fisik atau keramahan yang esensil, pada kepemimpinan yang efektif.”
Sifat-sifat pribadi yang tak terpisahkan hal ini membutuhkan suatu pendekatan
yang mampu menyatukan hal-hal untuk mencapai suatu persamaan suatu pemahaman
sifat itu sendiri.
Gaya setiap pemimpin tentunya berbeda-beda. Demikian juga
dengan masyarakat yang dipimpin. Ini merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa
situasi-situasi tertentu menuntut satu gaya kepemimpinan tertentu, sedangkan
situasi lainnya menuntut gaya yang lain pula. Gaya Pemimpin satu dengan yang
lainnya tentunya berbeda-beda. Pada waktu tertentu kebutuhan-kebutuhan
kepemimpinan dari suatu organisasi mungkin berbeda dengan waktu lainnya. Karena
organisasi-organisasi akan mendapatkan kesulitan bila terus-menerus berganti
pimpinan, maka para pemimpinlah yang membutuhkan gaya yang berbeda pada waktu
yang berbeda. Gaya yang cocok sangat tergantung pada tugas organisasi, tahapan
kehidupan organisasi, dan kebutuhan-kebutuhan pada saat itu.
Organisasi-organisasi perlu memperbarui diri mereka sendiri, dan gaya
kepemimpinan yang berbeda seringkali dibutuhkan. Dale (1992:36-48) menyebutkan
bahwa ada lima gaya kepemimpinan seseorang didalam memimpin, sebagai berikut;
1. Birokratis
Satu gaya yang ditandai dengan keterikatan yang
terus-menerus kepada aturan-aturan organisasi. Gaya ini menganggap bahwa
kesulitan-kesulitan akan dapat diatasi bila setiap orang mematuhi peraturan.
Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan prosedur-prosedur baku. Pemimpinnya
adalah seorang diplomat dan tahu bagaimana memakai sebagian besar peraturan
untuk membuat orang-orang melaksanakan tugasnya. Kompromi merupakan suatu jalan
hidup karena untuk membuat satu keputusan diterima oleh mayoritas, orang sering
harus mengalah kepada yang lain.
Pemimpin yang birokratis percaya bahwa setiap orang dapat
setuju dengan cara yang terbaik dalam mengerjakan segala sesuatu dan bahwa ada
suatu sistem di luar hubungan antarmanusia yang dapat dipakai sebagai pedoman.
Dalam hal ini pedoman tersebut adalah peraturan- peraturan dan tata cara.
Dengan peraturan yang telah ada pemimpin tersebut memberikan suatu rambu-rambu
tersendiri.
2. Permisif (serba membolehkan)
Di sini keinginannya adalah membuat setiap orang dalam
kelompok tersebut puas. Membuat orang-orang tetap senang adalah aturan mainnya.
Gaya ini menganggap bahwa bila orang-orang merasa puas dengan diri mereka
sendiri dan orang lain, maka organisasi tersebut akan berfungsi dan dengan
demikian, pekerjaan akan bisa diselesaikan. Koordinasi sering dikorbankan dalam
gaya ini.
Pemimpin yang permisif ingin agar setiap orang (termasuk
pemimpin itu sendiri) merasa senang. Stres internal dianggap sebagai suatu hal
yang buruk bagi organisasi
3. Laissez-faire
Laissez-faire berasal dari bahasa Perancis yang sejatinya
menunjuk pada doktrin ekonomi yang menganut paham tanpa campur tangan
pemerintah dibidang perniagaan; sementara dalam praktik kepemimpinan, pemimpin
mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya untuk melakukan apa saja yang mereka
kehendaki. Ini sama sekali bukanlah kepemimpinan. Gaya ini membiarkan segala
sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin hanya melaksanakan fungsi
pemeliharaan saja. Misalnya, seorang pendeta mungkin hanya namanya saja ketua
dari organisasi tersebut dan hanya menangani urusan khotbah, sementara yang
lainnya mengerjakan segala pernik mengenai bagaimana organisasi tersebut harus
beroperasi. Gaya ini kadang-kadang dipakai oleh pemimpin yang sering bepergian
atau yang hanya bertugas sementara.
Pemimpin laissez-faire menganggap bahwa organisasinya
berjalan sedemikian baiknya sehingga pemimpin tidak perlu turut campur, atau
menganggap bahwa organisasi tersebut tidak membutuhkan pusat kepemimpinan.
a. Partisipatif
Gaya ini dipakai oleh mereka yang percaya bahwa cara untuk
memotivasi orang-orang adalah dengan melibatkan mereka dalam proses pengambilan
keputusan. Hal ini diharapkan akan menciptakan rasa memiliki sasaran dan tujuan
bersama. Masalah yang timbul adalah kemungkinan lambatnya tindakan dalam
menangani masa-masa krisis.
Pemimpin yang partisipatif biasanya senang memecahkan
masalah dan bekerja sama dengan orang lain. Ia menganggap bahwa orang lain pun
merasakan hal yang sama, dan karena itu, hasil yang paling besar akan diraih
dengan cara bekerja sama dengan mengajak orang lain turut serta dalam mengambil
keputusan dan meraih sasaran.
b. Otokratis
Gaya ini ditandai dengan ketergantungan kepada yang
berwenang dan biasanya menganggap bahwa orang-orang tidak akan melakukan
apa-apa kecuali jika diperintahkan. Gaya ini tidak mendorong adanya pembaruan.
Pemimpin menganggap dirinya sangat diperlukan. Keputusan dapat dibuat dengan
cepat.Pemimpin yang otokratis menganggap bahwa orang-orang hanya akan melakukan
apa yang diperintahkan kepada mereka dan/atau ia tahu apa yang terbaik.
B. Pendekatan Perilaku
Gaya kepemimpinan tidak hanya berhenti pada pendekatan
sifat, dalam hal ini selanjutnya merupakan pendekaatan perilaku. Pendekatan
perilaku memfokuskan dan mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin
dalam kegiatannya mempengaruhi orang lain (pengikut). Pendekatan perilaku
kepemimpinan lebih banyak membahas keefektifan gaya kepemimpinan yang
dijalankan oleh pemimpin. Dalam hal ini perlu adanya observasi.
C. Pendekatan Situasional
Pendekatan situasional hampir sama dengan pendekatan
perilaku, kedudukannya menyoroti perilaku kepemimpinan dalam situasi tertentu .
dalam pendekatan situasional kepemimpinan lebih merupakan fungsi situasi
daripada sebagai kualitas pribadi, dan merupakan suatu kualitas yang timbul
karena interaksi orang-orang dalam situasi tertentu.
Idealnya, seorang pemimpin harus memiliki berbagai macam
gaya. Ia harus siap menghadapi segala keadaan, berpindah dari musim panas yang
serba membolehkan kepada musim dingin yang banyak tuntutannya. Memandang hal
ini dari sisi organisasi, maka organisasi harus mengadaptasi suatu strategi
untuk efektivitas, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan produknya.
Bila gaya kepemimpinan tidak disesuaikan sehingga mencakup
penyamaan sasaran dengan peran serta penuh, sering organisasi tersebut akan
mengadaptasi strategi menghindari kegagalan. Ketika organisasi mencapai ukuran
di mana gaya yang bersifat otokratis tidak akan lagi berfungsi bila pemimpin
tidak dapat berpindah ke gaya yang partisipatif, maka ia sering dipaksa untuk
mengambil gaya laissez-faire. Sementara itu kepemimpinan lapis kedua
kemungkinan besar akan memakai gaya birokratis.
Sarwono (2003:116-117) tergantung dari keadaan kelompok,
tujuan kelompok dan sifat kelompok, maka ada berbagai macam gaya kepemimpinan,
sebagai berikut:
- Kepemimpinana dapat terjadi langsung atau tak langsung. Kepemimpinan langsung adalah kepemimpinan yang datang dari diri pribadi pemimpin itu sendiri. Adanya pemimpin ditengah kelompok-kelompoknya secara fisiklah yang paling penting. Kepemimpinan tidak langsung adalah kepemimpinan yang terjadi melalui hasil karya pemimpin yang bersangkutan. Jadi secara fisik pemimpin tidak perlu berada ditengah-tengah kelompok, tetapi wibawanya diakui melalui, misalnya karya-karya tulisannya.
- Kepemimpinan dapat bersifat konservatif, yaitu kalau memperjuangkan hal-hal dari masa lalu dan bisa pula bersifat liberal, yaitu kalau memperjuangkan hal-hal baru dan perubahan sosial.
- Kepemimpinan dapat bersifat sosial, mental atau eksekutif. Kepemimpinan sosial terjadi melalui aktivitas sosial pemimpin; kepemimpinan mental terjadi melalui gagasan-gagasan yang datang yang datang ari pemimpin; sedangkan kepemimpinan eksekutif terjadi baik melalui aktivitas maupun melalui gagasan.
- Kepemimpinan dapat bersifat otokratis, paternalistis atau demokratis. Pemimpin otakratis adalah pemimpin yang selalu dominan, mau memaksakan kehendaknya sendiri saja, tukang memerintah dan sedikit sekali meminta pendapat pengikutnya. Pemimpin paternalistik adalah pemimpin yang bersifat seperti ayah. Ia membimbing, memberi nasihat, menunjukkan jalan yang baik. Jenis ini adalah jenis antara, yaitu jenis yang mempunyai sifat-sifat kepemimpinan oto kratis maupun demokratis. Pemimpin yang demokratis pemimpin yang meruakan katalisator dari berbagai pendapat yang ada diantara, pengikut-pengikutnya. Ia selalu meminta pendapat pengikutnya sebelum memutuskan sesuatu.
- Kepemimpinan partisan adalah kepemimpinan yang memihak.Ia pro sesuatu dan anti pro sesuatu yang lain. Pertimbangannya dalam memihak ini adalah kepentingan kelompoknya. Karena memihak itu ia menjadi pendebat, berbicara banyak, propagandis, dan mati-matian mempertahankan pendapatnya. Disamping itu ada pula pemimpin yang ilmiah. Sikapnya tenang, penuh pertimbangan dan memihak hanya kepada kebenaran yang obyektif. Ia tidak peduli kepada siapa yang dibela atau ditentangnya, misalkan ia yakin dengan alasan-alasan yang kuat bahwa yang dibelanya adalaah kebenaran.
Dari masing-masing kepemimpinan sangat berperan dalam
mengembangakan teori kepemimpinan. Hal tersebut juga memiliki kelebihan dan
kekurangan. Hal yang terjadin saat ini tentunya tidak lepas dari salah satu
yang ada di atas. Kepemimpinana dapat bersifat otokratis, paternalistis
atau demokratisinilah yang sebaiknya digunakan dalam mengembangkan suatu
negara. Suatu negara akan lebih mengembangkan potensi yang dimili dengan
kepemimpinan tersebut. Artinya, sorang pemimpin menjalankan
kepemimpinannya dengan mendengarkan suara rakyat.

Comments
Post a Comment
Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih