Pengertian Konsep Diri Menurut Para Ahli
Pengertian Konsep Diri Menurut Para Ahli. Setiap orang mempunyai gambaran dan pengertian tentang
dirinya sendiri. Gambaran ini didapat dari pendapat diri sendiri dan
orang-orang yang berpengaruh dalam hidup seseorang, yaitu orang tua, anggota
keluarga dan lingkungan sekelilingnya.
Konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciriciri/sifat) yang dimilikinya (Dayakisni, 2003:65).
Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungannya. Konsep diri adalah faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya (Rakhmat 2005:104).
![]() |
| Konsep Diri Menurut Para Ahli |
Fitts mengatakan bahwa konsep diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang, karena konsep diri seseorang merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam ia berinteraksi dengan lingkungannya. Fitts (1971) juga mengemukakan bahwa konsep diri adalah sebagai suatu keseluruhan kesadaran atau persepsi mengenai diri yang diobservasi, dialami, dan dinilai oleh seorang individu. Dengan demikian, sudah tentu setiap individu akan memiliki perincian yang sangat banyak dan bervariasi mengenai dirinya. Fitts membagi konsep diri ke dalam 2 (dua) dimensi pokok, yaitu :
1. Dimensi Internal
Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuan
internal (internal frame of reference) adalah bila seorang individu melakukan
penilaian terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia batinnya sendiri atau
dunia dalam dirinya sendiri terhadap identitas dirinya, perilaku dirinya, dan
penerimaan dirinya. Dimensi internal terdiri dari :
a. Diri sebagai obyek/identitas (identity self)
Identitas diri ini merupakan aspek konsep diri yang paling
mendasar. Konsep ini mengacu pada pertanyaan "siapakah saya ?", dimana
di dalamnya tercakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri
oleh individu yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun
identitasnya. Identitas diri akan mempengaruhi cara individu mempersepsikan
dunia fenomenalnya, mengobservasinya, dan menilai dirinya sendiri sebagaimana
ia berfungsi. Identitas diri sangat mempengaruhi tingkah laku seorang individu,
dan sebaliknya identitas diri juga dipengaruhi oleh diri sebagai pelaku.
b. Diri sebagai pelaku (behavior self)
Diri pelaku merupakan persepsi seorang individu tentang
tingkah lakunya. Diri pelaku berisikan segala kesadaran mengenai "apa yang
dilakukan oleh diri". Selain itu, bagian ini sangat erat kaitannya dengan
diri sebagai identitas. Diri yang kuat akan menunjukkan adanya keserasian
antara diri identitas dengan diri pelakunya, sehingga ia dapat mengenali dan
menerima baik diri sebagai identitas maupun diri sebagai pelaku. Kaitan
keduanya dapat dilihat pada diri sebagai penilai.
c. Diri sebagai pengamat dan penilai (judging self)
Diri penilai ini berfungsi sebagai pengamat, penentu
standart serta pengevaluasi. Kedudukannya adalah sebagai perantara (mediator)
antara diri, identitas dengan diri pelaku. Diri penilai menentukan
kepuasan seseorang individu akan dirinya atau seberapa jauh ia dapat
menerima dirinya sendiri. Kepuasan diri yang rendah akan menimbulkan harga diri
(self esteem) yang miskin dan akan mengembangkan ketidakpercayaan yang mendasar
kepada dirinya, sehingga menjadi senantiasa penuh kewaspadaan. Sebaliknya, bagi
individu yang memiliki kepuasan diri yang tinggi, kesadaran dirinya akan lebih
realistis, sehingga lebih memungkinkan individu yang bersangkutan untuk
melupakan keadaan dirinya dan lebih memfokukan energi serta perhatiannya
ke luar diri, yang pada akhirnya dapat berfungsi secara lebih konstruktif. Diri
sebagai penilai erat kaitannya dengan harga diri (self esteem), karena
sesungguhnya kecenderungan evaluasi diri ini tidak saja hanya merupakan
komponen utama dari persepsi diri, melainkan juga merupakan komponen utama
pembentukan harga diri. Penjelasan mengenai ketiga bagian dari dimensi
internal, memperlihatkan bahwa masing-masing bagian mempunyai fungsi yang
berbeda namun ketiganya saling melengkapi, berinteraksi, dan membentuk suatu
diri (self) serta konsep diri (self concept) secara utuh dan menyeluruh.
2. Dimensi Eksternal
Pada dimensi eksternal individu menilai dirinya melalui
hubungan dan aktifitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal
lain yang berasal dari dunia di luar diri individu. Sebenarnya, dimensi
eksternal merupakan suatu bagian yang sangat luas, namun yang dikemukakan oleh
Fitts adalah bagian dimensi eksternal yang bersifat umum bagi semua orang.
Bagianbagian dimensi eksternal ini, dibedakan Fitts atas 5 (lima) bentuk, yaitu
:
a. Diri fisik (physical self)
Diri fisik, menyangkut persepsi seorang individu terhadap
keadaan dirinya secara fisik. Dalam hal ini, terlihat persepsi seorang individu
mengenai kesehatan dirinya, penampilan dirinya (cantik, jelek, menarik) dan keadaan
tubuhnya (tinggi, pendek, gemuk, dan kurus).
b. Diri moral-etik (moral-ethical self)
Diri moral, merupakan persepsi seseorang individu terhadap
dirinya sendiri, yang dilihat dari standart pertimbangan nilai-moral dan etika.
Hal ini menyangkut persepsi seorang individu mengenai hubungannya dengan Tuhan,
kepuasan seorang individu akan kehidupan agamanya, dan nilai-nilai moral yang
dipegang seorang individu yang meliputi batasan baik dan buruk.
c. Diri pribadi (personal self)
Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seorang
individu terhadap keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi
fisik atau hubungannya dengan individu lain, tetapi dipengaruhi oleh sejauhmana
seorang individu merasa puas terhadap pribadinya atau sejauhmana seorang
individu merasakan dirinya sebagai pribadi yang tepat.
d. Diri keluarga (family self)
Diri keluarga menunjukkan pada perasaan dan harga diri
seorang individu dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Bagian diri ini
menunjukkan seberapa jauh seorang individu merasa kuat terhadap dirinya sendiri
sebagai anggota keluarga dan terhadap peran maupun fungsi yang dijalankannya
selaku anggota dari suatu keluarga.
e. Diri sosial (social self)
Diri sosial merupakan penilaian seorang individu terhadap
interaksi dirinya dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya.
Pembentukan penilaian individu terhadap bagian-bagian dirinya dalam
dimensi eksternal ini, sangat dipengaruhi oleh penilaian dan interaksinya
dengan orang lain. Seorang individu tidak dapat begitu saja menilai bahwa ia
memiliki diri fisik yang baik, tanpa adanya reaksi dari individu lain yang
menunjukkan bahwa secara fisik ia memang baik dan menarik. Demikian pula
halnya, seorang individu tidak dapat mengatakan bahwa ia memiliki diri pribadi
yang baik, tanpa adanya tanggapan atau reaksi dari individu lain di sekitarnya
yang menunjukkan bahwa ia memang memiliki pribadi yang baik.

Comments
Post a Comment
Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih